November 02, 2009

gue pengen!

April 19, 2009

Uphill Trip: Sentul - Rainbow Hill - Km 0 - BK - Sentul

Sabtu, 18 april 2009
Bagi saya, adalah suatu kepuasan dan kebanggaan tersendiri ketika naik sepeda dan menaklukan tantangan yang bernama tanjakan dengan satu-satunya sepeda lipat ban 16", 3 speed internal . Saya dan teman-teman b2w depok (rodex) dengan trip on-road 15Km dari Bellanova Sentul, menuju Rainbow Hill dan lanjut lagi menuju Km 0.

Start dari Bellanova sudah terlalu siang, sekitar jam 08.40, karena perjalanan dari Depok menuju Sentul cukup memakan waktu. Sementara, di Bellanova, matahari sudah mulai menyengat kulit, tapi tidak memutuskan harapan kami untuk tetap nanjak. Keluar dari Bellanova disambut tanjakan landai pertama, tidak ada masalah di sini, karena power masih utuh dan bahkan masih motret-motret teman sambil gowes serta masih sempat juga main-main shifter untuk menyesuaikan karakter tanjakan. Dengan speed rata-rata 12Km/h di jalur tanjakan 3 Km ini cukup mudah dilewati.

Sampai di pit stop I, sekitar pukul 09.15, saya berhenti sebentar untuk regrouping, karena beberapa teman yang memakai MTB akan berpisah di pitstop ini untuk mengambil route offroad, sedangkan saya dan teman-teman yang memakai sepeda lipat tetap melanjutkan dengan jalur onroad. Setelah berpisah, saya meneruskan perjalanan kembali, untuk kali ini langsung disambut turunan yang lumayan panjang yang saya gunakan untuk rekondisi tenaga serta nafas, dan masih bisa juga menikmati pemandangan yang indah di daerah menuju Rainbow Hill ini. Jalur ini aman untuk sepeda, masih hijau, tidak banyak kendaraan pribadi, tidak bising, sangat kontras dengan jalan-jalan yang ada di Jakarta...

Setelah puas menikmati jalan turun tadi, akhirnya didepan sudah terlihat tanjakan ke 2, jalur tanjakan ini tergolong masih normal, walaupun agak melingkar dan berkelok, masih saya nikmati, seolah tidak peduli dengan teriknya sinar matahari yang menyengat di kulit dan sangat berasa di aspal. Sesampai di belokan terakhir, didepan terlihat jalan yang benar-benar lurus dan benar-benar nanjak, terlihat samar dari bawah, di atas membentang garis horizon puncak ketinggian, saatnya kembali untuk fokus dan konsentrasi agar selama nanjak tidak ada kejadian kram perut atau kram kaki...

Di tengah-tengah jalur ini, saya melihat beberapa orang naik MTB udah berbalik arah turun, dalam hati saya berpikir kalau perjalanan kali ini memang sudah terlalu siang, melihat waktu sudah menunjuk 09.40, walaupun langit cerah biru dan pemandangan yang bagus, tapi matahari semakin kuat memancarkan sinarnya menyengat kulit dan aspal jalan, sedikit demi sedikit tanjakan saya lalui, dan saya lihat di depan juga masih ada MTB yang bersusah payah ikut menaklukkan tanjakan ini. Pelan-pelan saya dekati MTB, dan pas sewaktu bersebelahan saya sapa, "Mari Om,..." Tidak ada jawaban, saya coba lirik si Om kelihatan sudah sangat payah, akhirnya saya salip dengan sepeda lipat ban mungil yang saya pakai. Pelan-pelan, saya mulai mendekati sebuah warung yang letaknya ada di tengah-tengah jalur naik, disitu banyak yang sedang beristirahat dan terlihat persis di depan warung seorang memakai MTB sedang kram kaki (atau mungkin kram perut) sedang di tolong temannya. Saya tetap naik, melewati warung, dari sana mereka sedang melihat saya dengan geleng-geleng kepala.

Saya pelan-pelan tetap terus melaju, dengan kayuhan pedal yang pelan namun konstan, speed paling ringan. Di belakang saya ada 2 teman dari B2w Rodex dengan seli 20" juga tetap nanjak. Dan akhirnya batas horizon yang tadi saya lihat adalah batas akhir tanjakan ternyata salah, hanya sedikit tikungan ke kanan, dan di depannya masih terbentang panjang tanjakan yang tak kunjung habis.

Dengan sisa nafas yang sudah lewat mulut, kapasitas oksigen di otak yang menipis, tenaga yang sudah mulai habis, mata yang mulai menyipit, dan suhu udara yang panas sekitar 39 derajat celsius, menbuat stamina cepat menurun drastis dan sangatlah memungkinkan untuk menyerah dan fall back, tapi tidak, saya tetap berusaha untuk naik, atur nafas dan terus naik, ... teman saya juga sudah keliatan payah, tapi tetap lanjut untuk nanjak. "Dikit lagi..." sahut teman sambil menyusul saya. Benar sekitar 100M di atas sana ada terlihat warung di gerbang Rainbow Hill, akhirnya kecepatan kurang dari 7Km/h dan dengan sisa tenaga dan nafas yang ada, akhirnya saya putuskan untuk terus mendekati warung, untuk melepas lelah....

Pit stop II, di sebuah warung dipinggir jalan, persis di seberang gerbang Rainbow Hill, saya dan 2 teman berhenti, turun dari sepeda, otot kaki kaku, kulit yang terbakar, kepala dan mata terasa berat, disertai nafas yang berantakan, berasa semua racun keluar semua bersama keringat yang mengucur deras.... akhirnya, sambil menunggu 4 teman saya yang masih menuju ke pit stop II, saya coba memperbaiki ritme nafas saya, minum dan refill air karena dehidrasi, dan saya sempatkan makan 1 buah pisang yang ada di warung itu, untuk me-recharge kembali tenaga yang hampir habis terkuras.

Setelah semua teman berkumpul, kami melanjutkan kembali perjalanan yang masih berkisar 3 Km lagi untuk mencapai tujuan yaitu Warung Km Nol. Dengan tenaga yang ada belum pulih maksimal, dan karena waktu yang sudah menunjukkan tengah hari, kami harus sampai tujuan supaya tidak telalu siang dan makan waktu lama. Sementara jalan masih tetap menanjak, walaupun agak landai dari yang sebelumnya, tapi tekstur jalan mulai tidak rata lagi, banyak jalan yang rusak dan berlubang, hal ini membuat konsentrasi lebih fokus karena saya menggunakan sepeda dengan diameter ban 16".

400 M menuju Warung Km Nol, jalan benar-benar rusak, hanya batu-batu split coral, membuat saya benar-benar susah payah. Tapi dengan sisa semangat dan tenaga yang ada, akhirnya, finish.. Saya berada di Warung Km Nol, yang kebetulan 2 orang teman saya, Om Suhud the living legend, yang kerap bolak-balik Jakarta-Bandung dengan sepeda lipat 20"-nya, dan ada Om Acep sang XC master yang kebetulan sama-sama ingin menaklukan tanjakan ngehe ini dengan sepeda lipat. Saya, dengan sepeda lipat 16" 3 speed, finish no 3 setelah mereka....

Warung Km Nol, sebuah warung legenda tempat orang-orang yang menyukai tanjakan dengan sepeda, sebuah warung kecil yang tepat berada di posisi 0 Kilometer, di dalamnya lengkap dengan hidangan dan minuman segar untuk para penyepeda yang mampir untuk beristirahat, sebelum turun pulang. Di sini, saya bertemu dengan teman-teman lain yang memakai MTB, kecuali saya, satu-satunya yang memakai sepeda ban kecil. Di Warung ini juga, akhirnya saya beristirahat, menikmati alam sekitar yang membentang hijau. Sambil menunggu teman-teman yang lain untuk regroup lagi, kami beristirahat, makan dan minum memulihkan tenaga yang telah terkuras selama perjalanan dan meneruskan perjalanan pulang turun dengan arah yang berbeda, melewati jalur BK, jalur lebih pendek menuju Bellanova, tapi dengan turunan yang lebih curam tentunya....dan, akhirnya kami pun sampai kembali di Bellanova pukul 13.30, di tengah panas teriknya matahari yang tepat di atas kepala...

Data yang saya peroleh dari cyclometer di sepeda saya:
Time: 1:33'50"
Average Speed: 15 Km/h
Max Speed: 50,8 Km/h (tercapai berkat turunan ngehe panjang)
Distance: 23,56 Km








March 29, 2009

that's curious, passenger is an engine [edited]

Ajaib, sebuah kata yang saya pilih untuk sepeda, dimana kita yang berada di atasnya adalah sebuah mesin.

Yup, sejauh ini naik sepeda selalu mengingatkan masa kecil saya. Waktu itu saya masih umur 5 tahun, orangtua saya membelikan sebuah sepeda BMX, karena saya masuk TK. Di situlah saya mulai mengenal sepeda. Ibu selalu ngomel-ngomel, ketika saya hujan-hujanan sambil naik sepeda, Bapak saya pernah mengunci sepeda BMX kesayangan karena saya terlalu ekstrim memakainya, freeride tanpa rem, jumping lepas tangan, bahkan sempat saya kecelakaan karena menabrak orang yang kebetulan adalah tetangga rumah. :(

Banyak kejadian-kejadian yang membuat saya tersenyum mengenang masa kecil dan masa-masa saya dianggap sangat bandel oleh orangtua saya. Dan, sekarang, saya mempunyai sepeda lagi, sebuah pemberian istri tercinta. Sepeda yang tiap hari saya gunakan sebagai alat transport menuju kantor.

Bike to Work, tren yang semakin lama semakin luntur karena peralihannya menjadi work for bike [secara kebetulan, tanpa bermaksud meniru, istilah work for bike ini ada di harian kompas, pada hari yang sama].
Sebuah fenomena yang tidak bisa dipungkiri, banyak orang sekarang yang bekerja hanya untuk membelanjakan gaji untuk sepeda baru dan pernak pernik upgrade, dan pada akhirnya terjadi sebuah ajang pamer dan koleksi sepeda baru dan tentu saja mahal atau hanya untuk membeli parts upgrade harga selangit yang katanya bisa membantu genjotannya lebih ok, lebih kencang, lebih kuat nanjak dan alasan-alasan lainnya. Saya sangat-sangat menyayangkan kondisi saat ini, slogan-slogan memasyarakatkan sepeda, dengan embel-embel mengurangi polusi & kemacaetan di Jakarta ini menjadi kabur. Menurut saya bersepeda itu niat dan tulus, anda tidak akan bisa memasyarakatkan sepeda anda dengan sepeda mahal atau dengan sepeda yang sudah diupgrade, atau dengan sepeda yang hanya dikoleksi.

Mari pak, bu, om, tante, mas, mba'... mari kita besepeda, apapun jenis sepeda anda, yang penting niat dan kesadaran, tidak ada yang jelek dengan sepeda anda, tidak perlu malu dengan sepeda anda. Sekali lagi yang penting adalah niat dan kesadaran untuk kesehatan kita dan bumi yang makin rapuh ini, mari kita bersama-sama menjadi komunitas penyelamat bumi untuk anak cucu kita, sebagai earth warrior melalui bersepeda. That's it...
Tidak ada kata-kata mahal, tidak ada kata-kata upgrade. Yang ada hanya membuat mereka lebih nyaman dengan bersepeda.

Lepas dari itu semua, walaupun tidak akan menutup kemungkinan seandainya punya rejeki lebih silahkan untuk beli sepeda yang mahal, silahkan untuk di upgrade selayaknya sepeda para atlet. Upgrade parts banyak dijual dan di dapat, menawarkan produknya dari tipe yang paling murah sampai yang paling mahal. Tapi, se-ekstrim apapun sepeda anda akan percuma kalau kemampuan mesinnya terbatas. Jadi, jika berminat untuk upgrade, upgradelah mesin sepeda anda dulu, ganti dengkul dan paru-paru dengan anda dengan tipe yang paling kuat buat genjot. Karena sepeda adalah kendaraan ajaib, dimana anda yang duduk diatasnya adalah sebagai mesin. Jadi walapun dengan sepeda yang biasa saja, tapi dengan mesin yang canggih, anda akan semakin merasa nyaman....

Saya cuma anak baru dalam hal persepedaan, bukan dokter, bukan atlet sepeda bukan juga bengkel sepeda, hanya sekedar memberi respon dan sekedar penyepeda tiap hari dari rumah menuju kantor dengan sepeda yang berjarak cuma 35 km saja...

February 08, 2009

natalie oh natalie...

iseng maen-maen ama si natalie,.. dipalsuin jadi bmx, dan ternyata, banyak yang complain "perlakuan" saya ini, hahaha...
don't try this to your foldingbike!










foto: angga hadilaksananto

January 28, 2009

Dengarlah Nyanyian Angin

Cover Project:
Dengarlah Nyanyian Angin (Kaze No Uta O Kike)

Haruki Murakami
Kepustakaan Populer Gramedia
Oktober 2008